Akhir 2017

Blog wordpress sudah turun salju. Pertanda Akhir tahun sudah menyapa. Bagaimana progress tahun 2017 mu kawan? Apakah rencana hidupmu sudah banyak yang terealisasi. Ataukah lagi-lagi hanya berlalu seperti tahun sebelumnya?

Ada beberapa pencapaian, tapi masih banyak PR yang terbengkalai salah satunya ‘belajar nrimo ing pandhum’. Progress nya naik turun euy. Walau belum maksimal, proses belajar harus tetap terjaga bro. It’s the most important skill to live.

Impulse buying masih jadi ‘momok’ yang belum bisa dihilangkan. Masih sering tergoda oleh pernak pernik unik di toko online.

Minimalist life style juga masih sebatas tekad. Belum terealisasi. #argh

Di tahun ini, kegiatan positif “random act of kindness” masih terus dilakukan. Alhamdulillah.

Semoga tahun 2018, lebih baik lagi.

Advertisements

Latihan Kesabaran

Sudah lebih dari 3 bulan, bayaran belum diterima. Coba kontak via email, tapi cuma di janjikan secepatnya. Ah, begini rasanya kl ikut orang dan gaji di tahan. Berat, tapi hanya bisa bersabar menunggu. Sambil terus berdoa semoga cepat turun. Mungkin ini salah satu latihan kesabaran. Kalau lulus, bakal naik kelas kehidupan. Kalau gagal, ngulang lagi.

Ampuni Hamba

Ya Allah
Aku hanyalah seorang hamba yang penuh dosa
Aku masih sering terperosok oleh nafsu
Ibadahku juga sering lalai

Tapi engkau senantiasa memberikan kasih sayang-Mu

Sungguh hamba orang yang dzolim
Yang sering lupa bersyukur atas karunia-Mu

Ampuni hamba ya Allah

Gaya Hidup

Kesengsaraan dalam hidup bisa jadi karena gaya hidup mu sendiri.

Gaya hidup yang akan membuatmu bahagia
– Hidup sederhana
– Qonaah (Nrimo ing pandum)
– Aktif

Gaya hidup yang membuatmu susah
– Boros, suka beli ini itu meskipun tidak terlalu butuh
– Suka berhutang, meski tidak dalam himpitan.
– Iri dengan kehidupan orang lain
– Malas

Kamu pilih gaya hidup yang mana?

Jangan Memandang Rendah Orang Lain

Ketika engkau melihat orang lain, jangan pernah memandang rendah kepadanya.
Karena kita tidak pernah tahu akhir hidup seseorang.
Siapa tahu yang dulunya jahat dan pendosa, bisa bertobat dan menjadi orang yang bertakwa di akhir hidupnya.
Siapa tahu orang yang paling alim semasa hidupnya, berakhir dengan kekufuran karena hati yang kotor.

Bencilah perbuatan dosanya, tapi jangan orangnya.

Serba Cepat

Hidup di jaman sekarang itu maunya serba cepat. Mau masak cari yang cepat, masak mie instant. Mau ngopi pingin yang cepat, beli Kopi kalengan. Mau terkenal tapi gak mau kerja keras,  bikin sensasi yang heboh. Mau dapat gelar s2 gak pakai lama, beli ijasah. Mau dapa SIM tanpa perlu pusing tes sana sini, pakai calo. Mau cantik secara instant, pakai operasi plastik. Mau cepat kaya, pilih korupsi. Dll.

Tapi tahukah kamu, bahwa hidup serba cepat itu tidak baik. Artis yang cepat terkenal biasanya cepat tenggelam. Beli ijasah s2 itu hanya menipu diri sendiri dan pada akhirnya akan membawa masalah. Masak mie instant terus menerus hanya memperburuk kesehatan kita. Kalau mau kaya, ya kerja keras. Dan masih banyak lagi.

Mengapa kita tidak mau belajar menikmati proses. Bukankah hidup itu sebuah proses dari satu moment ke moment lainnya. Kalau semua serba cepat, bagaimana kita bisa menikmati hidup.