Pembeli Tidak Tahu Diri

Tidak mau antri adalah ciri orang yang egois. Mereka tidak menghargai orang lain yang lebih berhak. Mereka maunya ‘menang’ sendiri. Mereka itu tidak tahu malu.

Ngomongin orang yang tidak mau antri, saya punya pengalaman menarik. Ketika itu saya ingin beli lauk pauk dan sayur di sebuah warung. Sudah sering saya mampir ke warung itu. Biasanya saya datang jam 09.00-10.00 untuk menghindari pembeli yang banyak. Namun, pada hari itu saya lagi ada keperluan, dan baru bisa ke warung pada jam 11.00.

Saya sudah menebak kalau jam segitu bakal banyak yang antri. Dan benar dugaan saya, ketika sampai di tempat sudah banyak pembeli yang antri nunggu giliran. Karena saya datang belakang, ikutlah saya mengantri. Satu persatu pembeli dilayani oleh si penjual. Setelah menunggu beberapa lama tinggalah 3 orang, saya yang paling belakang. Dua orang di depan saya sedang di layani oleh 2 orang penjual. “sebentar lagi giliran saya nih”, pikir saya dalam hati.

Tak berapa lama, datanglah seorang ibu kantoran. Kalau dari seragam kayaknya PNS entah pemda atau guru. Tapi, dengan seenaknya dia tidak mau antri. Langsung ngomong pesan sayur ama lauk ke penjual. Saya sempat dongkol juga, nih orang PNS tapi gak tahu aturan dan sopan santun. Main nylonong aja. Saya diamin saja, gak enak negur ibu-ibu.

Beberapa saat kemudian, datang lagi dua orang wanita, si A dan si B. Lagi-lagi mereka main serobot saja, tidak mau antri. Mereka langsung minta dilayani sama si penjual, persis kayak si PNS. Saya mulai jengkel dengan tingkah laku pembeli yang tidak mau antri. Tapi, saya coba menenangkan diri sendiri. “Sabar, anggap ini sebagai latihan kesabaran”.

Si PNS udah pergi dan kini giliran si A yang dilayani. Ketika si A selesa di layani, si B langsung pesan ke penjual suruh bungkusin sayur urap. Tapi, diluar dugaan si Penjual ngomong begini ke si B,

“Maaf, mbak. Mas-nya ini (saya) sudah antri duluan, mbak nya nanti dulu”

Saya lihat si B dongkol dan berbisik ke si A,

“Ayo udah, kita balik sekarang!”. Si B tidak mau nunggu di layani lagi. Dia kecewa karena baru bisa dilayani setelah saya. Diapun pergi dengan si A sambil ngedumel nggak jelas.

Dalam hati saya hanya bisa tertawa, “Haha..Syukurin! Emang enak di cuekin. Itulah balasan bagi orang yang suka nyelonong antrian orang lain!”

Advertisements

Tinggalkan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s